*Oleh: Sulaiman Banta Syah
Kehilangan sosok almarhum Tu Sop menjadi sebuah duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Lebih dari sekadar seorang ulama, Tu Sop adalah figur visioner yang memiliki peran besar dalam membentuk gerakan politik di Aceh, terutama melalui inisiatifnya seperti Tim Kader Dakwah (TKD) dan Barisan Muda Umat (BMU), yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin. Peran beliau sangat signifikan dalam memberikan pencerahan politik yang berbasis pada nilai-nilai agama, terutama untuk kalangan muda.
Namun, yang menjadi sorotan dalam konteks politik Aceh saat ini adalah keberadaan Bustami Hamzah, calon gubernur yang sebelumnya dipandang sebelah mata oleh sebagian besar kalangan. Karier politik Bustami baru mendapatkan perhatian serius ketika Tu Sop memilih untuk mendampinginya. Sejak itu, pasangan ini mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, karisma dan pengaruh besar Tu Sop lah yang menjadi faktor penarik utama dukungan bagi Bustami.
Kini, dengan kepergian Tu Sop, muncul pertanyaan besar: “Bustami bisa apa?” Tanpa dukungan langsung dari sosok Tu Sop dan tanpa jalinan erat dengan elemen-elemen Dayah yang sebelumnya didapatkan melalui almarhum, Bustami dihadapkan pada realitas politik yang keras. Tanpa kekuatan moral dan sosial yang dimiliki Tu Sop, Bustami kembali pada posisi semula, di mana ia tidak dianggap sebagai tokoh yang layak memimpin Aceh.
Pilihan politik di Aceh tidak hanya berkisar pada kemampuan teknokratis atau popularitas, tetapi juga pada nilai-nilai keislaman yang dipegang teguh oleh masyarakat. Almarhum Tu Sop mampu menjembatani keduanya dengan baik.
Namun, dengan kepergian beliau, tantangan terbesar Bustami adalah bagaimana mempertahankan relevansi politiknya di tengah skeptisisme publik. Apakah Bustami mampu meraih kepercayaan tanpa figur ulama yang telah membesarkan namanya? Ini adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari langkah nyata yang diambil Bustami dalam beberapa waktu ke depan.
Aceh membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berkapasitas, tetapi juga memiliki kedekatan emosional dengan rakyat, seperti yang dimiliki oleh Tu Sop. Bustami harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar bayangan dari mendiang ulama besar tersebut. Jika tidak, kemungkinan besar ia akan tenggelam dalam ingatan sejarah sebagai calon gubernur yang kehilangan arah setelah kepergian sang mentor.
Penulis adalah Ketua TWD for Mualem Gubernur Aceh.