ORINEWS.ID, Banda Aceh – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Banda Aceh menggelar High Level Meeting (HLM) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh pada Jumat, 25 Juli 2024.
Pertemuan ini dibuka oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Banda Aceh, Ade Surya dan diikuti dengan pemaparan kondisi perekonomian serta perkembangan inflasi terkini oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Rony Widijarto. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Biro Setda Aceh, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Banda Aceh, Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) terkait, Kepala Dinas terkait, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Banda Aceh, serta anggota TPID lainnya.
Dalam sambutannya, Pj Wali Kota Banda Aceh mengajak para pimpinan instansi untuk memanfaatkan perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut XXI yang akan berlangsung pada 8-20 September 2024 sebagai momentum untuk mengakselerasi perekonomian Kota Banda Aceh. Dari 10 kabupaten/kota tuan rumah di Aceh, Banda Aceh akan menjadi lokasi utama dengan sekitar 75% venue berada di kota ini, mencakup 33 cabang olahraga.
“Venue paling banyak berada di Banda Aceh dengan 33 cabang olahraga, hal ini tentu saja akan lebih banyak mendatangkan pengunjung,” ungkapnya.
Disebutkan, sektor ekonomi yang diperkirakan akan meningkat adalah penyediaan makanan dan minuman/restoran, akomodasi, serta pariwisata. Dengan demikian, penting untuk memastikan sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan PON berasal dari Aceh.
“Namun, perlu diantisipasi agar event olahraga ini tidak menimbulkan dampak negatif, seperti risiko inflasi,” ujarnya.
Pemkot Banda Aceh akan terus mengoptimalkan sembilan upaya Pengendalian Inflasi Daerah, yaitu pemantauan harga dan stok, gerakan menanam, operasi pasar murah, sidak pasar, penambahan pasokan bahan pangan strategis melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD), bantuan ongkos angkut, dan optimalisasi anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) untuk pengendalian inflasi.
“Upaya-upaya ini akan dilakukan melalui sinergi dengan TPID Provinsi Aceh,” tutur Pj Wali Kota.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Rony Widijarto, menyampaikan, pentingnya menjaga stabilitas inflasi pada level yang rendah dan stabil sesuai dengan target 2,5% ±1%.
“Melalui sinergi TPID yang baik, inflasi Provinsi Aceh dan Kota Banda Aceh pada tahun 2023 mampu dijaga pada level yang stabil dan rendah sehingga memperoleh nominasi TPID Provinsi Terbaik dan TPID Kota Terbaik,” ujarnya.
Inflasi yang stabil ini berdampak positif terhadap konsumsi masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh yang mencapai 4,08% pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2024, rendahnya inflasi pada tahun 2023 dapat menjadi tantangan pengendalian inflasi akibat efek dasar (base effect).
“Karena itu, diperlukan upaya ekstra dalam pengendalian inflasi, terutama selama PON Aceh-Sumut XXI,” ujar Rony.
Ia menekankan, Kota Banda Aceh perlu mengoptimalkan alokasi Insentif Fiskal Daerah Kategori Pengendalian Inflasi Terbaik untuk memperkuat upaya pengendalian inflasi.
“Hal ini penting, karena Banda Aceh sangat berpotensi mendapatkan insentif tersebut karena realisasi inflasi -yang menjadi salah satu kriteria penilaian insentif fiskal- sangat baik di Banda Aceh,” pungkas Rony. []