TERBARU

Opini

Save Illiza

image_pdfimage_print

Oleh: *Joe Samalanga

Illiza Sa’aduddin Jamal tidak lolos ke Senayan, tersebar cepat di Media massa dan media sosial. Menarik memang, Illiza gagal setelah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tidak berhasil melampaui ambang batas parlemen/parliamentary threshold (PT) 4 persen pada Pemilihan Legislatif (Pileg) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tahun 2024, PPP hanya mampu memperoleh 3,87 persen.

Secara suara yang diperoleh Illiza di Dapil Aceh 1 itu mencapai 137.835 suara. Itu artinya, Illiza terhormat, sebab mantan Walikota Banda Aceh itu sudah diketok palu sebagai urutan ketiga pemenang DPR RI Dapil 1 Aceh, di bawah suara Irmawan (pertama) dan Nazaruddin Dek Gam (kedua).

Tentu dalam hal ini ada kekecewaan tinggi dari pemilihnya, namun disisi lain menjadi kegembiraan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menggantikannya menuju Senayan.

Bagi saya, Illiza penting berada di Senayan, setidaknya bisa menjadi perwakilan yang menyuarakan perempuan Aceh secara nasional. Apalagi Komisi X yang ditempati Illiza, sangat membantu anak-anak Aceh dalam memperoleh beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP).

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto
Illiza Sa’aduddin Jamal. |FOTO: instragram @illizasaaduddin

Secara pribadi, saya sangat menyayangkan kondisi itu, namun kita pahami hanya keajaiban lah yang dapat mengembalikan Ibu Illiza ke Parlemen, baik keajaiban jalur hukum yang ditempuh PPP, maupun jalur “keikhlasan” dan kembali merebut pucuk pimpinan di Banda Aceh.

BACA JUGA
Heboh! Tulisan “Adili Jokowi” Bermunculan di Kota Medan, Ada Apa?

Berbicara Illiza tentu sangat erat kaitannya dengan Banda Aceh. Keberadaan dan dipilih menjadi anggota DPR RI juga akibat sebab kalah pada Pilkada melawan Aminullah Usman, dan kekalahan itu bukan berarti Illiza meredup, sebab melaju ke DPR RI adalah solusi tepat yang menempatkan Illiza pada porsi “perempuan politik” yang dimiliki Aceh sesungguhnya.

Bila kita menilik sejarah Aceh yang sebenarnya, maka sangat jelas “politik Aceh” Itu berada di tangan perempuan. Jika lebih ditelusuri, maka pejuang perempuan yang sesungguhnya bangkit dari keterpurukan, dan siap bangkit bersama Rakyat untuk menjaga marwah Aceh dari ketertindasan.

Saya sangat optimis, kekalahan Illiza menuju ke Senayan merupakan kekalahan yang terhormat, sebab perempuan kelahiran Banda Aceh, 31 Desember 1972 itu dikalahkan partainya sendiri. Namun bagi rakyat Aceh, kekalahan Illiza ini lebih sebagai awal mencapai pucuk pimpinan dari hasil “perang” yang dijalani, itu fakta sejarah “perempuan pejuang” di Aceh.

Inilah politik–bisa berlangsung tanpa diduga. Namun kali ini, Illiza pamit dengan air mata, dengan bahasa “cita-cita” yang terkubur, namun Illiza tidak sendiri, sebab dia bersama 137.835 pemilihnya yang tersebar dari Sabang hingga ke Aceh Singkil. Illiza memang dikalahkan oleh nasip. Save Illiza. ***

Penulis adalah praktisi media tinggal di Banda Aceh

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.