Orinews.id|Langsa – Direktur Riset dan Advokasi Moving Forward to the Future (MFF) Syndicate, Fikrah Aulia mengapresiasi Kota Langsa yang berada diperingkat kedua penduduk termiskin terendah di Provinsi Aceh berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Langsa.
Namun demikian, kata Fikrah, masyarakat harus mengulik lebih dalam lagi terkait data yang dilampirkan tersebut.
“Kita apresiasi sekali, namun kita harus mengulik lebih dalam lagi terkait data itu,” katanya kepada Orinews, Jumat (1/9/2023).
Kata Fikrah, angka Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 2022 tinggi yakni mencapai 63,90 persen, artinya penduduk kota Langsa yang tergolong masuk usia kerja aktif mencari pekerjaan ataupun aktifitas ekonomi lainnya.
“Tapi, ada problematika penting yang harus kita pahami disini, walaupun TPAK kita tinggi, namun angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) justru meningkat,” ujarnya.
Fikrah menjelaskan, pada tahun 2021 angkat TPT hanya 7,21 persen, sedangkan pada tahun 2022 justru meningkat 7,85 persen, artinya meningkat 0,64 persen.
Menurutnya, hal ini terjadi efek daripada pasca Pandemi Covid-19 yang dimana membuat sejumlah lapangan kerja di Kota Langsa tergerus ataupun gulung tikar.
Sejauh ini, sambungnya, masyarakat Kota Langsa lebih dominan berdagang daripada berpartisipasi mencari pekerjaan karena sempitnya dan terbatas lowongan pekerjaan di Kota Langsa.
Hal itu membuat masyarakat Kota Langsa lebih memilih untuk membuka usaha ataupun berdagang. Namun pula, tidak menutup kemungkinan usaha-usaha tersebut bisa saja gulung tikar sewaktu-waktu nantinya.
Kemudian, Fikrah menjelaskan, terkait angka kemiskinan di Kota Langsa itu terbagi menjadi beberapa yaitu Head-Count Indeks (P0), Poverty Gap Indeks (P1), dan Poverty Severity Indeks (P2).
Pada P0, jelas Fikrah, tahun 2021 angka P0 yaitu 10,96 persen, turun menjadi 10,62 persen artinya ada penurunan yakni 0,34 persen.
“Kemudian P1, pada tahun 2021 angkanya 1,53 persen dan justru naik ditahun 2022 menjadi 2,17 persen, kenaikannya yaitu 0,64 persen. Kemudian, P2 pada tahun 2021 hanya 0,33 persen dan naik pada tahun 2022 0,6 persen artinya kenaikan 0,27 persen,” rincinya.
Berdasarkan angka tersebut, kata Fikrah, Kota Langsa belum bebas dari kemiskinan dan pengangguran yang meningkat. Dominasi pedagang atau wiraswasta di Kota Langsa memang cukup tinggi artinya ada peningkatan keinginan memperbaiki ekonomi.
“Keterbatasan ruang lingkup lapangan kerja ini membuat angka-angka tersebut justru naik. Inilah peran penting Syaridin selaku Penjabat (Pj) Walikota Langsa untuk dapat membuka lapangan kerja di Kota Langsa agar angka-angka tersebut menjadi 0 persen,” ujarnya.
Perlu kita ketahui bersama, kebanyakan masyarakat Kota Langsa itu lebih memilih merantau ketimbang berada di Kota Jasa.
Hal ini menurutnya, bukan karena tidak ingin membangun Kota Langsa, namun karena sempitnya lapangan pekerjaan tadi.
Sambungnya lagi, Pj Walikota Langsa yang baru dilantik dalam hal ini penting sekali membangun program-program yang bersifat Continue agar muda-mudi di Kota Jasa ini mendapat pekerjaan dan membangun Kota Langsa kearah yang lebih baik.
“Maka penting sekali ini menjadi perhatian kita bersama agar Pemerintah Kota Langsa untuk bisa mengundang investor ataupun dapat membuka industri-industri skala panjang yang bersifat continue untuk meminimalisir angka pengangguran, kemiskinan menjadi 0 persen,” pungkasnya.