Orinews.id|Banda Aceh – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaiman SP, MP menyatakan, pada tahun 2023 ini, pihaknya mentargetkan produksi gabah di Aceh bisa mencapai 1,7 ton.
“Untuk bisa mencapai target sebanyak itu, Distanbun Kabupaten/Kota, perlu mengajak petani padinya untuk memaksimalkan areal sawahnya ditanami padi,” kata Cut Huzaimah, pada acara pembukaan Rakor Tehnis Tanaman Pangan dan Perkebunan Aceh 2023, di Hotel Grand Nanggroe, Senin (20/2/2023) malam.
Pada tahun 2018 lalu, ungkap Cut Huzaimah, yang didampingi Sekdisnya Azzanuddin, target produksi gabah kita terlampui. Targetnya 2,539 juta ton, realisasinya mencapai 2,556 juta ton.
Setelah itu, sampai tahun 2022, target produksi gabah di Aceh tidak pernah lagi tercapai dan terlampui.
Untuk itu, mulai musim tanam rendeng dan musim tanam gadu tahun ini, Cut Huzaimah menerukan, target produksi gabah yang telah dibuat 23 kabupaten/kota sebanyak 1,7 juta ton dengan cara memaksimalkan tanam padi di areal persawahan yang ada di daerahnya masing-masing.
Fasilitas dan sarana untyuk peningkatan produksi gabah tersebut sudha disedikan pusat. Antara lain kata Cut Huzaimah, Pemerintah Pusat, telah menambah kuota pupuk subsidi kita tahun ini cukup besar.
Untuk pupuk jenis urea, kuota yang diberikan Kementan untuk Provinsi Aceh pada tahun 2023 ini mencapai 163.074 ton, sebelumnya hanya 78.096 ton. Begitu juga dengan pupuk jenis NPK, pada tahun lalu hanya diberikan 45.871 ton, tahun ini naik menjadi 195.269 ton.
Tambahan kuota pupuk subsidi tersebut, kata Cut Huzaimah, mari bersama-sama kita manfaatkan untuk peningktan produksi padi.
Penyuluh pertanian di lapangan kita pinta mengajak kelompok tani, memaksimalkan penggunaanya bagi peningkatan, dengan cara membantu petani menebus pupuk tersebut, melalui aplikasi yang baru. Misalnya melalui kartu tani digital maupun aplikasi yang lama.
Harga pupuk subsidi urea lebih murah hanya Rp 2.250/Kg atau Rp 112.500/sak (50 Kg) dan pupuk jenis NPK hanya Rp 2.300/Kg atau Rp 115.000/sak (50 Kg) dan pupuk NPK formula khusus Rp 3.300/Kg, atau Rp Rp 165.000/sak (50 Kg), untuk tanaman coklat.
Dibandingkan pupuk urea non subsidi, sebut Cut Huzaimah, harganya cukup tinggi mencapai Rp 550.000/sak atau Rp 11.000/Kg dan pupuk NPK non subsidi Rp 15.000/Kg atau Rp 750.000/sak (50 Kg).
Selain padi, kata Cut Huzaimah, masih ada beberapa target produksi komoditi pangan yang menjadi tugas kita bersama untuk meningkatkan produksinya, yaitu jagung. Targetnya tahun 2023 ini sebanyak 327.000 ton, kedelai 610 ton, bawang meraah 8.920 ton dan cabe merah 11.889 ton.
Untuk tanaman jagung, kata Cut Huzaimah, masih banyak petani yang mau menanamnya. Diantaranya di Aceh Tenggara, Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara dan sebagian pesisir pantai Barat – Selatan Aceh, sehingga targetnya produksi besar mencapai 327.000 ton.
Tapi untuk tanaman kedelai target produknya hanya 610 ton, disebabkan semangat petani kita di daerah untuk tanam kedelai sangat rendah, kendati harga kedelai saat ini cukup tinggi berkisar Rp 650.000 – Rp 700.000/sak (50 Kg), atau Rp 13.000 – Rp 14.000/Kg.
Kedelai yang dijual di Aceh sekarang ini, diimpor dari Amerika, makanya harga kedelai jadi mahal. Produsen tempe dan tahun di daerah mengeluh, terkait tingginya harga kacang kedelai, yang merupakan bahan baku tempe dan tahu.
Distanbun Kabupaten/Kota bersama penyuluh pertaniannya, pinta Cut Huzaimah, mengajak kembali anggota kelompok taninya, selesai panen padi rendeng bulan Maret dan April 2023 mendatang, dihimbau dan diajak tanam kedelai, bibitnya disediakan.
Pada tahun 2022 lalu, Kementerian Pertanian sediakan bibit kacang kedelai untuk penanaman seluas 15.000 hektar, yang berhasil ditanam hanya sekitar 6.000 hektar, selebihnya dipulangkan kembali ke pusat.
Hal ini terjadi, karena bantuan bibit kacang kedelai itu masuk ke Aceh, petani sudah tanam padi rendeng, sehingga petani banyak yang tidak mau tanam kedelai.
”Tahun ini disediakan kembali untuk areal seluas 7.000 hektar,” pungkas Cut Huzaimah. []